Kali ini kita kembali menggambar perspektif. Siapkan alat dan bahannya yah

Alat dan bahan:
1. Kertas HVS atau Buku gambar A4
2. Pensil
3. Penggaris
4. Serutan
5. Penghapus

Langkah-langkah
1. Buat sebuah titik hilang di bagian atas kertas
2. Buat garis horisontal tepat di titik hilang. Lalu buatlah objek persegi di bagian kanan bawah.
3. Buat garis dari masing-masing sudut menuju titik hilang 
4. Buat lagi sebuah objek persegi panjang yang tingginya lebih rendah.

5. Buat kembali garis dari setiap sudut menuju titik hilang.
Buat pembatas bidang. Ingat sudutnya harus 90° yah.

6. Tambahkan jendela dan pintu. Silakan kreasikan sesuka hati.

7. Tambahkan dua gedung lagi di kanan dan kiri

8. Tambahkan kreasi kalian, lalu hapus garis yang tidak perlu.

 Foto dan kirim ke nomor WA pak Fajar. 






A. PUISI
Puisi adalah salah satu karya sastra dengan bentuk yang identik. Menurut KBBI, puisi adalah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman hidup dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penatan bunyi, irama, dan makna.
Menurut bentuknya, puisi terbagi dua: (1) puisi lama, dan (2) puisi modern. Puisi lama adalah puisi yang masih terikan bentuk, bunyi, serta penyusunan larik dan baitnya. Sedangkan puisi modern adalah puisi yang melepaskan diri dari keterikatan tersebut sehingga membebaskan penulisnya untuk berekspresi.

B. UNSUR INSTRINSIK PUISI
1. Diksi (Pilihan Kata)
Jika ingin membangun puisi, penyair haruslah memilah kata-kata dengan cermat dengan cara mempertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam puisi keseluruhan.
2. Imaji (Daya Bayang)
Maksud imajji atau daya bayang ketika membangun puisi ialah penggunaan kata-kata yang konkret atau nyata dan khas yang dapat menimbulkan imaji visual (warna, bentuk), auditif (bunyi), maupun taktil (tekstur).
3. Majas (Gaya Bahasa)
Majas disebut juga bahasa figuratif. Didalam puisi artinya bahasa yang dipakai penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak umum atau menggunakan kata-kata yang bermakna kiasan atau perumpamaan sehingga menjadi lebih menarik dan indah.
4. Bunyi
Bunyi dalam puisi mengacu pada digunakannya kata-kata tertentu sehingga menimbulkan efek nuansa tertentu.
5. Rima
Rima adalah persamaan bunyi atau perulangan bunyi dalam puisi yang bertujuan untuk menimbulkan efek keindahan.
6. Ritme
Ritme dalam puisi mengacu pada dinamika suara dalam puisi agar tidak dirasa membosankan atau monoton bagi penikmat puisi.
7. Tema
Tema dalam puisi mengacu pada suatu ide gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh pengarang secara tidak langsung melalui puisinya.


C. PUISI LAMA
1. Pantun
Pantun merupakan puisi lama yang masih sangat digemari yang memiliki ciri-ciri sangat khas, sehingga sangat mudah dikenali. Pantun memiliki 4 baris (larik) yang terdiri dari 2 sampiran dan 2 isi. Inilah yang membuat pantun unik dan dijadikan sebagai media hiburan, informasi, bahkan sindiran. Nah, ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut:

  • Tiap baitnya terdiri dari 4 baris. Jika prosa menyebut paragraf pada setiap kalimatnya, beda dengan pantun. Dalam puisi lama ini biasanya selalu terdiri dari 4 baris. Kemudian barisan kata dalam pantun disebut dengan sebutan larik sehingga sangat mudah mengenali jika ada contoh pantun seperti ini.

  • Memiliki suku kata 8-12 pada setiap barisnya. Pada zaman dahulu, umumnya pantun tidak pernah dituliskan. Pantun biasanya disampaikan langsung secara lisan. Karena harus singkat dan padat, itu mengapa dalam pantun hanya terdiri dari 8-12 suku dan tidak lebih.

  • Memiliki sampiran dan isi. Ini dia ciri pantun yang sangat khas dan kental. Yakni memiliki sampiran dan isinya, biasanya sampiran terdapat di baris pertama dan kedua. Kemudian isi berada di baris ketiga dan keempat. Sampiran berisi pengantar untuk menjelaskan isi dibawahnya, hal ini akan sangat mudah di ingat.

  • Berima a-b-a-b atau a-a-a-a. Rima adalah kesamaan bunyi pada di akhir kata dalam sebuah pantun atau puisi. Puisi lama memang sangat kental dengan rima, tak terkecuali pantun. Untuk pantun sendiri sangat khas dalam rimanya yakni memiliki formasi a-b-a-b.
Contoh Pantun:
ke ciamis membeli keris
keris berkelok yang didapati
berlalu gadis-gadis manis
hanya adik yang nempel di hati

2. Karmina

Karmina adalah pantun yang hanya terdiri dari dua baris. Baris pertama berisi sampiran dan baris kedua berisi isi. Selain jumlah baris, ciri-ciri karmina masih sama dengan pantun. Contoh Karmina :

Mang Sarmun tetap menjual jamu
bertahun tetap kunanti janjimu

3. Syair

Syair adalah puisi lama yang berasal dari timur tengah. Syair seperti dalam pengertiannya adalah bentuk puisi yang terikat, sehingga ia mempunyai aturan-aturan tersendiri. Beberapa aturan yang mengikat suatu karya sastra disebut syair di antaranya adalah:

  1. Terdiri dari empat baris setiap baitnya.
  2. Terdiri dari bait-bait yang bermakna isi.
  3. Jumlah kata setiap baris tetap biasanya 4-5 kata.
  4. Jumlah suku kata dalam setiap baris tetap yaitu 8-12 suku kata.
  5. Mempunyai rima yang tetap a-a-a-a
  6. Bahasa kiasan.

Contoh Syair
SYAIR AGAMAN
Rajin-rajinlah beribadat
Janganlah lupa mengerjakan solat
Dan perbanyaklah engkau berzakat
Untuk bekal nanti di akhirat
Janganlah engkau berbuat maksiat
Janganlah engkau berbuat jahat
Segeralah engkau bertaubat
Agar selamat dunia akhirat
Janganlah engkau bertakabur
Perbanyaklah engkau bertapakur
Mendapatkan nikmat wajib bersyukur
Agar selamat berasal dari siksa kubur

4.  Gurindam
Gurindam merupakan suatu puisi lama yang berisi dua bait, dalam setiap baitnya ada dua baris kalimat dengan rima yang sama, yang satu kesatuan secara untuh. Gurindam dibawa oleh sastra Hindu atau orang Hindu. Gurindam yang berasal dari India atau bahasa “Tamil” yakni kirindam dalam arti perumpamaan, mula-mula asmal.
Baris yang pertama berisi seperti soal, perjanjian atau masalah dan baris yang kedua berisi jawabannya atau akibat dari masalah atau peranjian di baris pertama tadi.

Ciri-Ciri Gurindam

  1. Gurindam terdiri atas dua baris pada setiap baitnya.
  2. Setiap barisnya mempunyai jumlah kata 10-14 kata.
  3. Setiap barisnya mempunyai keterkaitan sebab akibat.
  4. Setiap barisnya mempunyai bersajak atau rima A-A, B-B, C-C, dan selanjutnya.
  5. Maksud atau isi pada gurindam ada di baris kedua.
  6. Isi gurindam umumnya tentang kata-kata mutiara atau filosofi hidup, nasehat-nasehat.
Contoh

apabila selalu mencela orang
tandanya dia bermain curang

jika anda bermain curang
tentulah lawan menjadi berang

TUGAS
Kerjakan soal di link berikut!

A. Pengertian Gambar Perspektif

Perhatikan gambar berikut!
Gambar 1.1 (Dalam Rumah)
Sumber: moondoggiesmusic.com
Gambar 1.2 (Luar Ruangan)
Sumber : romadecade.org

Meskipun terlihat sulit, dua gambar tersebut adalah hasil buatan tangan manusia. Loh, kok bisa? Ternyata ada rumus juga dalam menggambar (wah kirain cuma matematika yang ada rumusnya).

Dua gambar tersebut dibuat dengan menggunakan teknik gambar perspektif. Perspektif berarti sudut pandang mata. Jadi gambar perspektif adalah gambar yang dibuat berdasarkan pandangan mata manusia secara nyata. Misalnya, pada gambar pertama, pintu dan kursi terlihat semakin mengecil. Lalu, pada gambar kedua, jalan raya terlihat mengecil dan menghilang di satu titik.


B. Hukum Gambar Perspektif
  1. Benda yang besar, semakin jauh akan terlihat semakin kecil.
  2. Benda yang tinggi, semakin jauh akan terlihat semakin rendah.
  3. Gambar sejajar akan bertemu di titik hilang.
  4. Titik hilang akan selalu berada di garis horisontal.
  5.  Garis vertikal akan tetap vertical walaupun posisinya menjauh.
  6.  Garis horisontal menunjukkan letak benda terhadap tinggi mata orang yang menggambar.
  7.  semakin jauh, warna benda akan semakin memudar.
  8.  benda bulat akan terlihat menjadi elips.
C. Unsur Gambar Perspektif
  1. Titik Hilang
  2. Garis Vertikal (tegak lurus)
  3. Garis Horisontal (tegak menyamping)
  4. Garis Diagonal (garis miring)
Gambar 2 : Unsur Perspektif



 D. Jenis Gambar Perspektif
  1. Perspektif Satu Titik Hilang
  2. Perspektif Dua Titik Hilang
  3. Perspektif Tiga Titik Hilang
E. Jenis Pandangan
  1. Pandangan Burung : saat objek berada di bawah garis horizontal.
  2. Pandangan Normal : saat objek berada tepat di garis horizontal.
  3. Pandangan Katak : saat objek berada di atas garis horizontal.

TUGAS

Praktik Menggambar Perspektif Satu Titik Hilang.

Intrsuksi : Buatlah gambar perspektif dengan mengikuti petunjuk berikut!

Alat dan Bahan
  1. Kertas HVS/Buku Gambar A4
  2. Pensil
  3. Penggaris

 Petunjuk Pembuatan
1. Siapkan kertas HVS/Buku Gambar A4!
2. Pada tengah kertas, gambarlah sebuah titik hilang tepat di tengah kertas!


Gambar 3.1 Buatlah titik hilang di tengah!
 3. Buatlah garis horisontal tepat pada titik hilang!
Gambar 3.2 Buatlah garis horisontal pada titik hilang!
4. Buatlah objek berbentuk persegi pada sebelah kanan kertas di bawah garis horisontal.

Gambar 3.3 buat gambar persegi!
5. Tarik tiap sudut persegi menuju titik hilang (kecuali titik keempat)! garis dibuat tipis saja karena nanti akan dihapus.
Gambar 3.4 Tarik sudut ke titik hilang!

Mengapa hanya titik keempat yang tidak ditarik ke titik hilang? Karena gambar perspektif akan menampilkan gambar 3 diamensi, maka garis yang berada di belakang objek tidak perlu digambar karena terhalang oleh objek sendiri.

6. Buatlah garis batas sesuai objek persegi! (Ingat hukum perspektif nomor 5. Jika garis kalian tidak tegak lurus, maka gambar salah)
Gambar 3.5 Membuat garis batas objek
7. Tebalkan garis putus penghubung objek pertama dengan garis batas!
Gambar 3.6 Menebalkan garis putus objek
8. Hapus garis putus sisa! Lalu beri gradasi/arsiran yang berbeda pada setiap sisi!
Gambar 3.7 hapus garis putus dan beri gradasi pada bidang
9. Gambar kembali dua objek persegi! Satu di atas garis horizontal, yang satu lagi tepat berada di garis horizontal. Lalu ulang langkah nomor 1 sampai 8.
Gambar 3.8 buat dua objek persegi dan ulangi langkah 1-8!

10. Gambar perspektif kalian sudah jadi! 
Gambar 3.9 Hasil Akhir
Tulis nama dan kelas kalian di pojok kanan atas! Foto gambar kalian dan kirim ke nomor WA Pak Fajar!
1.Perhatikan kutipan fabel berikut!
         Walupun Sang Kura-kura dan Elang jarang bertemu karena Sang Kura-kura lebih banyak menghabiskan waktu di semak-semak sedangkan Sang Elang lebih banyak terbang, namun, tidak menghalangi Sang Elang untuk selalu mengunjungi teman kecilnya yang baik hati, Sang Kura-kura.
         Kutipan tersebut merupakan  struktur isi yaitu …
a.          bagian pembuka sebuah fabel
b.         bagian pemunculan masalah sebuah fable
c.          bagian pertentangan sebuah fabel
d.         bagian penutup sebuah Fabel


Pembahasan: Jika kita amati, bagian fabel tersebut tidak menunjukkan indikasi masalah atau konflik. Sedangkan, bagian tersebut juga tidak menunjukkan pengenalan tokoh maupun latar terjadinya cerita. Berarti, bagian orientasi dan komplikasi telah terjadi sebelum teks tersebut. Dengan demikian besar kemungkinan bahwa bagian tersebut adalah bagian resolusi atau akhir dari sebuah alur cerita.

2. Perhatikan kutipan fabel berikut!
        Setelah itu, Raja Kera melompat ke seberang sungai, berenang dengan susah payah. Dicarinya seutas akar yang menjulai ke pohon kayu. Ujung akarnya dibawa ke seberang kembali. Maksudnya hendak dibuat jembatan untuk rakyatnya. Tetapi malang, akar itu tidak sampai. Kurang sedikit lagi. Dengan tidak pikir panjang diikatnya kakinya sebelah, kemudian ia bergantung pada batang kayu.
 Pesan moral yang terdapat dalam kutipan tersebut adalah …
a.       Tidak ada akar anggota badan pun berguna bagi rakyat yang dipimpinnya
b.      Melakukan sesuatu harus dengan perhitungan yang matang supaya selamat
c.       Seorang pemimpin harus mau membuat jembatan untuk rakyatnya sehingga berhasil
d.      Seorang pemimpin harus memikirkan nasib rakyatnya dalam keadaan bahaya sekalipun


Pembahasan: Pesan moral adalah bagian positif yang dapat kita teladani dari sebuah cerita. Dalam cerita tersebut, Raja Kera bersusah payah dan mengorbankan kakinya untuk menyambung tali agar rakyatya dapat menyebrang. Pengorbanan sang Raja Kera itulah yang dapat menjadi teladan bagi kita bilamana kita menjadi pemimpin, yakni rela berkorban.

3. Perhatikan kutipan fabel berikut!
 Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan.  Sampai pada suatu hari, Si Semut terjebak dalam lumpur.  Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan di atas lumpur hidup yang bisa menarik dan menelannya ke dalam lumpur tersebut. Ia tidak tahu juga kalau akan segera mati.
Kalimat yang mengandung perwatakan tokoh pada kutipan fabel di atas adalah …
a.       Kalimat pertama
b.      Kalimat kedua
c.       Kalimat ketiga
d.      Kalimat keempat

Pembahasan : Perwatakan dapat dilihat dari kata sifat yang dimunculkan dalam narasi atau dialog dalam cerita, dapat pula ditunjukkan melalui perilaku yang dideskripsikan. Dalam kutipan fable tersebut, secara jelas dituliskan sifat dari si semut lewat kata sombong. 


4. Penulisan kalimat langsung yang benar pada kutipan fabel adalah …
a. “Toloong, tolooong! Aku terjebak di lumpur hidup! Toloong!” Teriak Si Semut.
b.“Toloong, tolooong! Aku terjebak di lumpur hidup! Toloong!” teriak Si Semut.
c. “Toloong, tolooong! Aku terjebak di lumpur hidup! Toloong! Teriak Si Semut.”
d.“Toloong, tolooong! Aku terjebak di lumpur hidup! Toloong! teriak Si Semut.”

Pembahasan : Kalimat langsung adalah ujaran yang disampaikan langsung oleh tokoh. Sementara itu, kalimat tidak langsung adalah menyampaikan kembali ujaran orang lain. Ciri utama kalimat langsung adalah terdapat tanda kutip di awal dan di akhir kalimat.
Namun, kalimat langsung biasanya disertai pula dengan kalimat tidak langsung sebagai penanda ujaran. Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi kalimat majemuk. Ejaan yang lazim digunakan adalah penggunaan tanda koma sebagai pemisah antara kalimat langsung dan kalimat tidak langsung.
contoh:
1. "Gus, kamu segaja dirumahkan agar terhindar dari virus Covid-19," ujar Ibu.
2. Ibu berkata, "Gus, kamu segaja dirumahkan agar terhindar dari virus Covid-19."
3. "Gus," kata Ibu, "kamu segaja dirumahkan agar terhindar dari virus Covid-19."
Bila kalimat langsung berisi kalimat tanya, kalimat perintah, ataupun kalimat ajakan, tanda tanya atau tanda seru dapat digunakan sebagai pengganti tanda koma. Meski demikian, fungsi tanda tanya dan tanda seru sebagai titik ditiadakan karena fungsinya menggantikan tanda koma. Sehingga kata selanjutnya setelah tanda tanya/tanda seru tetap diawali dengan huruf kecil (tidak kapital).

5. Perhatikan kutipan fabel berikut!
(1) Merasa dipermainkan, Beruang pun marah dan berkata, “Awas kamu, Cing! Tidak akan kumaafkan!" (2) Beruang pun turun dengan menjatuhkan dirinya sambil tetap memeluk pohon. (3) Oleh karena itu, sampai sekarang jika Kucing buang kotoran, ia akan membuat lubang dan menutupnya kembali. (4) Hal itu dilakukan agar kotorannya tidak dimakan Beruang. (5) Sementara itu, Beruang bisa memanjat pohon, tetapi ketika turun ia akan memerosotkan badannya ke bawah.
Kata kerja pasif pada kutipan fabel di atas terdapat pada kalimat …
a. Pertama dan ketiga
b. Pertama dan keempat
c. Kedua dan keempat
d. Kedua dan kelima


Pembahasan: Kata kerja Pasif adalah kata kerja yang menempatkan subjek sebagai penerima aktifitas. hal ini bertolak belakang dengan kalimat aktif yang menempatkan subjek sebagai pelaku.
contoh:
1. Alvin menggigit risol.
      (S)         (P)       (O)
2. Risol digigit Alvin
     (S)      (P)       (O)
S = Subjek
P = Predikat
O = Objek
Cara paling mudah membedakan kalimat aktif dan pasif adalah dengan melihat preditatnya. Predikat pada kalimat aktif, umumnya, menggunakan awalah Me-. Sementara itu, pada kalimat pasif, predikat menggunakan awalan Di-.
Dalam kutipan fabel tersebut, predikat yang menggunakan awala di adalah kata dipermainkan (kalimat pertama) dan kata dilakukan (kalimat keempat).

6. Perhatikan kutipan fabel berikut!
“Harimau yang baik, jangan kau makan aku, tubuhku yang kecil pasti tak akan mengenyangkanmu.”
“Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini”, Ujar Si Harimau. Angin tiba-tiba berhembus lagi, kriet kriet. “Suara apa itu?” Tanya Harimau penasaran.
Perbaikan ejaan dan tanda baca yang tepat pada kalimat kedua kutipan di atas adalah …
a. “Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini!” Ujar Si Hariamu.
b. “Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini!” ujar Si harimau.
c. “Aku tak peduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini.” Ujar Si Harimau.
d. “Aku tak peduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini,” ujar Si Harimau.

Pembahasan: Kata perduli adalah bentuk tidak baku dari kata peduli. Jadi, yang benar dan sesuai ejaan adalah peduli. Meski begitu, masih banyak yang menggunakan kata perduli, contohnya pada lagu Afgan, Rita Sugiarto, Pas Band, sampai Dhyo Haw.
Sementara itu, yang baku untuk menghubungkan kalimat langsung adalah kata ujar dengan huruf kecil. penjelasannya sama seperti soal nomor 5.

7. Perhatikan kutipan teks cerita berikut!
Di hutan belantara hiduplah seekor landak. Namanya Landa. Jarang sekali dia bermain dengan binatang lain. Si Landak tidak mau bermain dengan binatang lain karena khawatir duri yang ada ditubuhnya akan menusuk temannya. Setiap hari Landa bermain sendiri. Mencari makan pun dia hanya berani pada malam hari. Pada saat binatang lain tidur pulas, dia baru mencari makan. Hatinya sedih karena tidak mempunyai teman yang bisa diajak berbicara dan bermain.
Penulisan kata depan yang salah pada cerita di atas adalah …
a. Di hutan belantara hiduplah seekor landak.
b. Dia khawatir duri yang ada ditubuhnya akan menusuk temannya.
c. Mencari makan pun dia hanya berani pada malam hari.
d. Pada saat binatang lain tidur pulas, dia baru mencari makan.

Pembahasan: kata depan adalah kata yang mengawali sebuah kata. Kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
Contoh
1. Faris pergi ke Pasar Kranggot. (Bukan kepasar)
2. Siswa SMP BCK belajar di rumah untuk karantina diri. (bukan dirumah)
3. Mita baru saja pulang dari Cipaot.

8. Semua binatang-binatang yang beradadi hutan rimba itu sangat terkejut sekali ketika menyaksikan Sang Harimau mengamuk .
Perbaikan yang tepat terhadap kalimat tidak efektif tersebut adalah …
a. Semua binatang-binatang yang berada di hutan rimba itu sangat terkejut ketika menyaksikan Sang Harimau mengamuk.
b. Semua binatang-binatang yang berada di hutan rimba itu terkejut sekali ketika menyaksikan Sang Harimau mengamuk.
c. Semua binatang yang berada di hutan rimba itu sangat terkejut sekali ketika menyaksikan Sang Harimau mengamuk.
d. Semua binatang yang berada di hutan rimba itu sangat terkejut ketika menyaksikan Sang Harimau mengamuk.

Pembahasan: Kalimat tidak efektif terjadi, salah satunya, karena pemborosan kata. Pada kalimat di atas, kata semua sudah berarti banyak. Sementara itu, kata binatang-binatang juga berarti banyak. Hal ini mengebabkan terjadinya pemborosan kata yang bermakna sama. Lalu, kata sangat dan sekali juga memiliki makna yang sama, sehingga menggunakan kedua kata tersebut secara bersama-sama adalah sebuah pemborosan.

9. Perbedaan mendasar antara fabel dengan cerpen terletak pada …
a. alur
b. tokoh
c. tema
d. amanat

Pembahasan : Pada dasarnya, fabel juga termasuk cerpen karena memiliki semua unsur yang ada pada cerpen. Yang menjadikannya berbeda hanyalah dari segi tokoh yang memerankannya. Tokoh pada fabel adalah hewan, tumbuhan, bahkan benda-benda mati.

10. Perhatikan kutipan fabel berikut!
Sudah dua hari ini Puput Siput tidak ke sekolah. Padahal, dia itu hewan yang rajin dan sebelumnya tak pernah begini. Oleh karena itu, Langlang Belalang, Opung Capung, dan Kiki Jangkrik berencana mengunjunginya usai pulang sekolah. Merekan bertiga sepakat untuk berangkat bersama-sama.
Kalimat yang tidak mengandung keterangan waktu pada kutipan fabel di atas yaitu kalimat…
a. Pertama
b. Kedua
c. Ketiga
d. Keempat

Pembahasan: 
Ciri-ciri keterangan waktu
1. Menggunakan penanda waktu : hari ini, besok, pukul 14.00, dll
2. Menggunakan kata depan : pada Jumat, di pagi hari, saat turun hujan, sebelum fajar menyingsing, ba'da magrib.
3. Digunakan untuk menjawab pertanyaan kapan.
Kalimat 1 : sudah dua hari

Kalimat 2 : sebelumnya
Kalimat 3 : usai pulang sekolah 
kalimat 4 : - (tidak ada)